Senin, 18 Mei 2009

PENERJEMAH, PROFESI YANG TERPINGGIRKAN

Novel Harry Potter tidak akan bisa dinikmati jutaan penggemar novel di Indonesia bila tanpa melalui proses penerjemahan. Bahkan berita-berita internasional terkini, yang dinikmati jutaan orang di negeri ini, tidak terlepas dari jasa penerjemahan. Atau kita bisa bayangkan, andai saja tanpa adanya upaya penerjemahan al-Qur’an atau kitab-kitab Islam berbahasa Arab itu ke dalam bahasa Indonesia, bagaimana nasib para ustadz “dadakan” yang sering muncul di televisi itu bercerama atau mengulas suatu masalah?

Selanjutnya adalah, tahukah mereka, siapa yang berdarah-darah dibalik penerjemahan karya JK. Rowling itu? Sehingga karya itu bisa “booming” dan dinikmati jutaan orang di negeri ini. Siapa pula, yang berdarah-darah di balik penerjemahan al-Qur’an dan kitab-kitab agama berbahasa arab itu? Sehingga ustadz-ustadz “dadakan” itu bisa comot sana-comot sini literatur Islam? Pertanyaan seperti ini patut diajukan, sebab harus diakui, apresiasi masyarakat di negeri ini, cenderung melupakan jasa seorang penerjemah. Hal ini bisa dibuktikan ketika karya terjemahan booming, sang penerjemah tak ikut sedikitpun “terjawil” atas keboomingan itu. Tidak hanya itu, bahkan tak sedikit, penerbit dengan sengaja atau tidak, sering alpa mencantumkan nama seorang penerjemah dari buku-buku karya import yang mereka terbitkan.

Di luar keredaksian dan keboomingan itu —di negeri kita ini—profesi sebagai “penerjemah” masih terasa asing terdengar di telinga atau bahkan mungkin sebagian lainnya belum mengenal atau tidak pernah tahu bahwa ada profesi yang disebut “penerjemah”. Lebih dari itu, industri buku karya terjemahan yang menjamur sekarang ini, masih belum sebanding dengan penghargaan yang harus diterima seorang penerjemah. Hal ini dibuktikan, dengan sangat minimnya bayaran atas jerih payah mereka. Akibatnya banyak penerjemah di negeri ini hidup dalam keprihatinan yang sangat. Padahal, dalam panggung sejarah—tak terelakkan—salah satu sumbangsih yang paling signifikan dalam kemajuan sebuah bangsa atau sebuah peradaban adalah karena jasa para penerjemah. Tidak percaya? Marilah kita membuka sedikit lembaran sejarah itu.

Sebelum Islam datang di semenanjung arab, terlebih dahulu telah berkembang pendidikan Sassanian yang dipelopori oleh Ardeshir Papakan, misalnya, mengirimkan orang-orang terpelajar ke India dan kekaisaran Romawi untuk belajar bahasa mereka. Selanjutnya ia memerintahkan penerjemahan karya-karya tersebut ke dalam bahasa Pahlavi. Mereka, kaum terpelajar yang menerjemahkan karya-karya itu sangat difasilitasi oleh penguasa, bahkan tak sedikit, nama-nama mereka dijadikan “simbol” kebesaran kekuasaannya, sehingga tradisi penerjemahan terus terpelihara secara turun-temurun, dan lambat laun pula menghasilkan lembaga-lembaga pendidikan baru di kota-kota penting Persia, seperti Akademi Jundi-Shapur dan Akademi Maan Beit Ardeshiri. Dari kedua akademi ini pula muncul beberapa penerjemah ulung dari bahasa Sansekerta, Pahlavi, dan Syria.

Ketika Islam datang dan menemukan masa kejayaannya. Hal itu tidak datang dengan tiba-tiba, akan tetapi berkat kesadaran penguasa akan pentingnya ilmu pengetahuan dan keuletan para penerjemah. Misalnya, Khalid ibn Yazid ibn Murawiya (704-708 M), seorang penguasa Umayyah dan filosof dianggap sebagai orang yang mendorong para sarjana Yunani di Mesir untuk menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab dengan imbalan yang sangat tinggi. Peristiwa ini sering disebut sebagai proses penerjemahan pertama yang terjadi dalam dunia Islam.

Harun al-Rasyid (786 hingga 809 M), salah satu penguasa Abbasiyah, mempunyai perananan aktif dalam kemajuan dunia penerjemahan. Bahkan diceritakan ia telah mewakafkan lebih dari separoh harta bendanya untuk kepentingan penerjemahan manuskrip-manuskrip kuno Persia ke dalam bahasa arab. Al-Makmun, penguasa Bagdad (786-833 M), khalifah Abbasiyah paling berpengaruh, merupakan pemrakarsa pengetahuan dan karya-karya ilmiah melebihi Harun al-Rasyid serta menjadikan pencarian dan penerjemahan manuskrip-manuskrip Yunani sebagai tujuan hidupnya, bahkan ia mengirim sebuah misi kepada raja Byzantium, Leon De Armenia, demi tujuan hidupnya itu. Ia juga mendirikan perpustakaan Bait Al-Hikmah (house of wisdom), akademi ilmu pengetahuan, serta membangun sebuah pusat penelitian berdasarkan usulan ratu Palmyra. Selama masa kekuasaannya, beribu-ribu manuskrip kuno telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.

Salah satu penerjemah handal yang dimiliki pemerintahan al-Makmun adalah Hunain ibn Ishaq (808-877 M), ia seorang tabib Nestorian, salah satu sarjana hebat pada masanya. Jumlah karya terjemahan yang telah dihasilkannya, sebanyak 95 karya versi bahasa Persia, lima darinya adalah edisi revisi dan 39 versi bahasa arab dari buku-buku Galen dan lainnya. Ia bekerja sebagai seorang penerjemah sekitar lebih dari 50 tahun. Perkembangan ini memicu penerjemahan berbagai karya–karya sains seperti Matematika dari India dan Cina, sedangkan karya –karya dalam bidang kedokteran banyak diterjemahkan dari Persia.

Dorongan kerja penerjemahan pada masa kejayaanIslam (golden age) terlihat dari pemberian bayaran kepada para penerjemah. Hunain, misalnya, ketika diangkat dan sebagai pengawas perpustakaan Bait al-Hikmah, setiap menerjemahkan buku diberi hadiah emas oleh al-Makmun senilai dengan berat buku yang diterjemahkan. Karenanya, tak mengherankan bila Jamil Shaliba dalam bukunya al-Falsafah al-Arabiyyah, berpendapat, bahwa munculnya peradaban Islam penyebab utamanya dua hal; penghargaan yang tinggi penguasa kepada penerjemah dan keuletan para penerjemah manuskrip kuno Yunani ke dalam bahasa arab. Karena dua hal tersebut itu pilar-pilar peradaban Islam berhasil melahirkan banyak filsuf, dokter, astronom, ahli matematika hingga hukum berkelas dunia. Karena dari proses penerjemahan ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Ketika Imperium Islam Bani Abbasiyah semakin lemah oleh konflik internal, dan ketika bangsa Mongol masuk untuk menghancurkan kota Baghdad, rotasi transmisi ilmu pengetahuan dari Islam ke Barat berjalan juga dengan cara penerjemahan buku-buku. Koleksi segudang buku berbahasa Arab di Kordoba sebagai pusat peradaban kaum muslim di belahan Eropa, telah menjadi cahaya penerang bagi seantero jagad Eropa. Kemudian ribuan Peneliti, Pengajar dan Siswa dari seluruh dunia dan terkhusus Eropa, telah menjadikan Kordoba sebagai kiblat ilmu pengetahuan dan kemajuan sains. Seluruh ide awal masa Renaissance dan Revolusi sains Eropa berawal dari kota Kordoba itu (kurun ini sering disebut Aufclarung). Terbukanya tirai kehidupan baru ini mendorong masyarakat Eropa khususnya kaum intelektual untuk menerjemahkan kembali sisa-sisa manuskrip arab yang berisi berbagai disiplin ilmu ke dalam bahasa Latin, Hebrew, Spanyol, Italy, Catalan dan bahasa-bahasa lain selama abad ke 12 dan 13 (Bibliophilism in Medieval Islam, 1938).

Demikianlah sedikit napak tilas jasa penerjemah di panggung sejarah peradaban umat manusia. Dan diakui atau tidak, ilmu pengetahuan yang kita dapatkan mulai dari bangku Sekolah Dasar hingga sekarang ini pun tidak terlepas juga dari jasa seorang penerjemah. Hal ini bisa dibuktikan dengan koleksi buku-buku yang kita miliki, baik itu buku pelajaran, agama, majalah, novel, pendidikan dan lainnya. Setidak-tidaknya dalam kandungan buku-buku itu ada unsur penerjemah atau buku itu sendiri bisa jadi adalah sebuah karya yang telah dihadirkan ke hadapan kita lewat perantara penerjemah. Namun profesi penerjemah di negeri kita ini adalah profesi yang masih terpinggirkan, profesi yang hanya dengan sedikit bayaran, profesi yang masih belum dikenal oleh masyarakat dan semacamnya. Karenanya, tak heran banyak yang menjadikannya sebagai profesi sampingan, sehingga kebanyakan kualitas buku terjemahan karya-karya asing di negeri ini mutunya ikut memprihatinkan pula, dan itu tak bisa disalahkan, sebab para penguasa negeri ini dan industri buku kita, rupa-rupanya masih belum memihak pada jasa seorang penerjemah, apalagi mendidik tenaga penerjemah menjadi lebih terampil dan profesional.